[6.09 AM] December 28, 2017

Selamat pagi dari tempat tidur hangatku. Di luar abu-abu. Hujannya rintik, terlalu putus asa mengguyur kota tempatku menuntut ilmu.

2014

Awal tahun keduaku di sekolah menengah. Ketika Twitter masih lebih sangar dari Instagram. Masa dimana angkatan 2016 Abu Bakar Yogyakarta masih bebas bersentuhan dengan dunia maya, bebas berselancar di sosial media.

Kurang lebih satu tahun sejak patah hati pertama seumur hidupku. (Usiaku enam belas waktu itu, terlalu dini. Prematur.) Sambil memeluk bantal, aku berlari seperempat lorong menuju kamar sebelah yang pada akhirnya air mataku membuncah. Tanpa sanggup kutahan, tangisku pecah. Tau kalau temanku sedang berbahagia jadi you are the one and only-nya mantanku. Sepele, tapi aku terlalu marah untuk tenang. Terlalu sesak untuk baik-baik saja.

Aku akhirnya sukses berpindah hati setahun kemudian.

Di penghujung tahun 2017,

Disertai sesak yang lebih berat di dada daripada kejadian bertahun-tahun lalu.

Pagi ini, di tempat tidur hangatku, aku baru saja terbangun dari mimpi yang boleh jadi adalah mimpi indah bagi seseorang. Tapi, setelah setahun bergulat dengan hati, aku tau mimpi ini merupakan sebuah timbangan untuk mengetahui seberapa berat sakit yang akan ditimbulkan apabila pada akhirnya dia—laki-laki yang entah kenapa saat ini ingin sekali kupeluk erat—tidak kembali padaku. Dari situ aku menyimpulkan bahwa aku belum baik-baik saja. Mimpi buruk setelah empat belas bulan bersembunyi di balik bayang-bayang aku tidak apa-apa.

Postingan Populer