Tukang Baper Mencari Cinta

Hai, masih tentang hati.
Waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, aku suka sama anak laki-laki yang mau dibilang ganteng tapi kok jatuhnya malah bohong. Bisa suka karena diejekin tiap hari. Dasar anak ingusan, gitu doang jadi suka.
Berawal dari pelajaran biologi yang ngebahas tentang bunglon yang ahli kamuflase, sejak saat itu dan seterusnya anak-anak pada ngejekin 'mimikri = fifikri'. Anak itu namanya Fikri.
Nggak apa ya, Fik, aku publish. Toh, ini masa lalu. Kita masih ingusan.
Dari kelas lima, kebawa sampai kelas enam, gitu terus menjelang akhirussanah. Nyesek banget karena nggak bisa bilang. Mau bilang apa juga, kan.
Akhirnya akhirussanah. Tetep dipendem, tetep nggak mau bilang. Pas perjalanan pulang, di dalem mobil udah nangis aja (ini serius). Nangis karena tau kita nggak mungkin ketemu lagi.
Ternyata iya. Nggak pernah ketemu lagi setelah lima tahun. Kontakan pun nggak.
Dan sekarang...
Kasus yang mirip ini terjadi lagi.
Suka sama anak laki-laki yang sama sekali nggak peka, apalagi punya rasa yang sama. Udah runtuh dinding 'laki-laki lebih dulu' saking nggak pekanya dia.
Karena kalau nggak ada yang mulai, hubungannya statis. Nggak jadi deket, nggak berkembang.
Udah sering mulai duluan, bahas topik apapun. Sekenanya. Terus akhirnya jayus. Mungkin aku yang kurang asik, bahasannya kurang dinamis, kurang kreatif. Ya maaf mas, aku kan gugup.
Patheticnya, dia masih ngarepin mantannya. Kalo udah bahas kayak gini, coklat berasa tahi. Sumpah. Udah mau give up, tapi dia masih secerah sinar matahari yang nggak pernah absen bikin aku senyum tiap hari.
Lebay.
Tapi aku udah ada prediksi ending dari cerita SMA ku yang menerenyuhkan hati ini;
Sampai lulus nanti, aku stay jomblo dengan hati yang udah tinggal separo. Persis era Fikri Hakim dulu.

Postingan Populer