Confession

Hai. Izinkan aku menengok masa lalu. Hanya sebentar, untuk memetik hikmah dari seluruh perbuatanku.

Kepada kamu yang tak perlu kusebut namanya. Dulu kamu segalanya, prioritas utamaku, (bahkan kalau tidak berlebihan) kamu yang aku ingat setelah Tuhan kita (meskipun saat bersama, kita kadang lupa pula padaNya).

Yang kusebut dalam doa justru kamu lebih dulu, lalu kedua orang tuaku. Semua perubahan aku dedikasikan untuk kamu (yang dulunya) malaikat terkasihku. Every rules I had you breaking.

Lalu sebuah teguran menampar aku dan kamu, di bawah hujan, di dalam diam. Benar-benar kediaman yang membuatku ingin sekali menangis, tapi aku urung. Ingin kutunjukkan kepada kamu bahwa aku kuat, sampai aku kembali.

Kamu ingat cara kita berpisah? Miris. Bahkan saat aku berakting seolah tidak terjadi apapun. Seolah aku baik saja.

Aku merindukanmu.

Tapi aku tidak boleh seperti ini. Karena aku menjunjung tinggi teori 'laki-laki lebih dulu'. Dan aku hanya menunggu.

Aku menunggu, dan kamu datang.

Kamu datang, aku jengah.

Lalu aku merindukanmu sekali lagi.

Dan menunggumu lagi, dan kamu sempatkan diri untuk datang kembali.

Karena aku tau kamu ada, aku abaikan kamu sekali lagi boleh, ya? Toh, kamu pasti kembali. And I was wrong. Kamu tak kembali. Dan aku runtuh saat aku tau apa yang tak seharusnya kuketahui.

Some says; You never realize how much you like someone until you watch him like someone else.
Dan parahnya, kamu menjatuhkan pilihan pada temanku sendiri. Teman yang kamu tau dekat denganku.

Ini ujianku. Diuji sabarnya, peluapan emosinya, ikhlasnya. Aku mencoba menunjukkan sikap tidak peduli yang berlebihan sampai ketika kalian lebih dekat. Aku mual, aku lelah menahan emosi. Maka aku luapkan.

Seorang teman datang memberi advice, dan aku merasa memang seharusnya kamu aku lepaskan. Salahku sendiri bukan?

Dan sekarang aku sedang mencoba.

Karena cinta tak selalu tentang kamu. Karena cinta tak selalu identik dengan berdua.

Beberapa minggu yang lalu aku tau arti cinta yang sesungguhnya. Ketika melepas keluarga untuk tinggal jauh dari sini, kami semua menangis. Emosi spontan bukti cinta kami satu sama lain.

Karena cinta tak selalu tentang kamu.

Malam ini aku kembali dihadapkan pada arti cinta. Aku baru saja menonton 99 Cahaya Di Langit Eropa. Kamu tau? Aku merinding karena aku jatuh cinta dengan karakter Fatma Pasha. Disusul fakta bahwa Ayse lah yang membuatku jatuh cinta lebih dalam lagi.

Karena cinta tak selalu tentang kamu.

Note; Febrian itu tokoh fiksi. Pemeran pembantu yang sama sekali tidak pernah kutemui sebelumnya. Sesosok figuran yang membangun kepercayaanmu kalau aku sudah sepenuhnya terlepas dari kamu. Pemeran pembantu yang membuatmu benar-benar percaya kalau aku tidak pernah merindukanmu...

Postingan Populer