I Do Love That Young Man

They told me that to make him fall in love, I had to make him laugh. But everytime he laughs, I am the one who falls in love.’  
Happy fifth mensiversarry.                                                  
“‘I got my hopes up.’ She whispered.
‘About what?’ He asked.
‘About you actually loving me back.’”    
Awal tahun pertama jadi anak sekolah menengahku mirip foto-foto yang genrenya dramatis di Instagram; efek B/Wnya kena. Hitam putih. Seragam sekolah masih sepanjang lutut, jilbabku masih sebatas siku. Makin cupu gara-gara sepatu hitam, dan aku sendiri yang cuma diam. Karena ini lingkungan baru, aku belum berani speak up. Waktu itu, aku belum berbaur sama anak lain selain ex Nuris. Ya meskipun mulai kenalan sama anak Neventy, dan gerombolan Lampung.
Sering dibilang shalihah karena jilbabku yang gedenya luar biasa. Azmi, Puspa, sama Amalia cuma bisa ketawa karena aslinya nggak gitu. Makin ngenes karena patah hati yang belum sembuh. Boro-boro sembuh, bolongnya makin gede sejak hari pertama tinggal di Jogja. Waktu itu aku jadi stalker profesional yang gagal move on.
Sampai suatu malam MOS asrama, ada salah satu anak Neventy nepok pundakku sambil bilang, ‘Kamu mirip banget sama Icha.’ ‘Hehe Icha siapa ya?’ ‘Rumaisa, temen smpku. Ati-ati lho cowoknya disini...’ Nadanya mengancam. Nggak, nggak gitu. Mungkin aku yang terlalu grogi.
Sejak malam itu, banyak yang mirip-miripin aku sama Icha, banyak juga yang nyebut-nyebut nama kamu. Icha sendiri sampe penasaran dan dateng ke asrama. Kelas satuku penuh teror.  
Setelah menjalani masa-masa bodo amat dan susah move on, akhirnya kita semua naik ke kelas dua. Masih susah move on sampai bulan Oktober.
Bulan kelahiran, bulan penyadaran. Sadar ternyata aku officially suka sama kamu. Diem-diem dipendem sendiri, sampe fase kamu suka Farras, Baymax, Ara. Tapi aku nggak peduli, soalnya aku belum yakin aku suka sama kamu beneran atau nggak. Tapi ternyata iya.
Stalking lima bulan penuh, sampe akhirnya aku lihat celah. Waktu itu aku nggak berharap terlalu tinggi, temenan sama kamu bahkan udah cukup buat aku. Aku pesimis karena aku sudah cukup tua. Dan kamu jauh dibawah umur. But finally I got my hopes up.
Awalnya aku nggak percaya, karena kata mereka kamu itu tipikal orang yang nggak serius, gampang jatuh cinta, dan otomatis gampang berpaling. Tapi aku maksain diri untuk percaya. Darimana mereka tau kamu orangnya kayak gitu? Sedangkan mereka cuma tau dari cerita orang lain? So I decided to believe in you, no matter what.

Tak ada kisah tentang cinta  yang bisa terhindar dari air mata. Ya kan?  
‘It’s not healthy to be so insecure about your partner. You are supposed to be a team... Trust, or there’s no relationship. He could be with any girl he pleases, but he is with you. He only talks about you, because you excite him. He might smile at another girl but it’s just acknowledging another human being, just part of his human experience. Don’t worry about another girl. He has choosen you.’ – Chakabars.  
Ya emang harusnya gitu. Maaf.    
Insecure;  (Adj.)(ks.) tidak kokoh, gelisah.  
Beberapa bulan yang lalu aku sempet kepo banget. Kok bisa sih? Rizki Putra? Tapi yaudah sih, mbok ya bersyukur rasanya berbalas. Berkat kode memalukan yang kebablasan.
Disamping syukur, insecurenya masih belum berkurang. Katanya berawal dari nyaman... Jawaban kamu belum bikin aku puas.
Jadi faktor x yang aku punya cuma nyaman? Ibarat kamu beli sepatu, nggak selamanya sepatu itu nyaman di kaki. Sepatunya lama-lama pasti buluk juga, atau mungkin rusak. Jadi nggak nyaman dipake. Di situasi itu cuma sedikit orang yang tetep mau pake sepatu yang itu. Sebagian besar yang lain pasti beli yang baru.
Atau kayak kamu cari kamar kost. Kamu udah dapet kamar kost yang menurut kamu nyaman. Tapi apa kamu mau tetep tinggal di kost yang itu meskipun kamu udah lulus dan punya kerja? Udah punya cukup biaya untuk beli rumah yang lebih nyaman? Aku nggak tau. Tapi aku pengen tau kamu masuk kelompok yang mana. But it’s okay. It doesn’t matter at all.  
Yang aku sadari sejak awal, first love cannot be replaced. Mau berapa kali pacaran, cinta pertama nggak bakalan lepas dari memori. Dia tetap punya tempat istimewa di hati. Bisa jadi kita masih sering stalking profil Instagram si dia, atau Path, Ask.fm mungkin, Twitter, dan socmed lain. Nggak jarang juga kita kasih love atau like di postingannya. Itu wajar kok. Karena sampai kapan pun cinta pertama tetap spesial. Mau dia ngeselin, ngangenin, dia tetap spesial.  
Kamu nggak akan bisa berhenti peduli sama cinta pertama kamu. Sesederhana itu.  
Tapi aku tetep minta kamu berhenti  kontakan sama dia, bahkan maksa. Meskipun aku sendiri tau, cinta pertama adalah figur yang spesial untuk setiap orang. Aku sadar kalo aku jahat dan nggak pengertian. Aku egois dan cuma mikirin diri sendiri.  
Event buber Exvent bikin aku gelagapan. Ya meskipun aku udah memutuskan percaya sama kamu, apa pun yang terjadi. Rasanya aku nggak berguna banget; cuma bisa diem di rumah, dan nggak ada usaha buat ketemu kamu, ditambah suudzon nggak penting.  
Maaf kalo aku masih terlalu sering menduga-duga. Aku cuma nggak mau kayak tiga tahun yang lalu. I was completely in love with him, but he wasn’t. Sakitnya tuh di sini. Ternyata rasaku lebih besar dari dia. Kita nggak seimbang, karena cuma aku yang jatuh cinta.
Yang aku takutin sekarang sama; aku doang yang jatuh cinta, kamu nggak.
Makanya, aku coba antisipasi dengan menarik diri ke bawah kalo aku mulai melambung gara-gara kamu. Coba netralisir, coba ikhlas. Ikhlas kalo suatu saat kamu pergi, atau kamu bosen sama aku, dan atau-atau yang lain.  
Aku nulis ini, karena kamu berkali-kali minta aku nulis lagi. Percaya nggak aku nulis ini sambil nangis? Aku malu nulis kayak gini buat kamu yang akhirnya dibaca kamu.  
Dengan tulisan ini, aku pengen kamu tau. Aku pengen kamu tau, aku sebenernya gimana ke kamu. Aku pengen kamu tau kalo aku berusaha jadi cewek romantis. Aku pengen kamu tau kalo aku berusaha membuang cemburu, at least meminimalisir lah. Informasi aja; sebenernya aku orangnya cemburuan. Tapi aku juga sadar kalo mengalahkan kecemburuanku itu suatu keharusan. Aku pengen kamu tau kalo aku berusaha set you free, ngasih kamu ruang sebebas-bebasnya, meskipun pada akhirnya kamu harus berinteraksi dengan masa lalu lagi. Aku pengen kamu tau kalo aku berusaha jadi cewek fleksibel yang baik hati ke cowoknya, nggak protektif apalagi posesif. Karena aku tau kamu nggak suka dikekang. Ya kan?  
Sebelum kamu mengenal aku dengan baik, aku sempet punya beberapa wishes. Aku pengen hangout bareng kamu. Aku pengen punya foto sama kamu. Aku pengen deket sama kamu.   Semuanya udah terwujud, tapi aku masih belum cukup bersyukur dengan masuknya kamu di masa SMA ku. Belum cukup bersyukur dengan warna yang kamu bawa buat aku. Aku malah negative thinking, cemburuan.  
Bahkan aku berharap bisa kenal kamu lebih dulu. Buat apa? Aku nggak tau. Mungkin aku terlalu fokus menyaingi dia. Terlalu fokus jadi yang terbaik sampe lupa jadi nyaman kayak di awal. Aku selalu berharap kamu maklumin aku yang begini. Tapi aku juga ngerti, kamu nggak bisa terus menerus maklum. Kamu hidup bukan untuk maklumin aku.  
Untuk menebus sifatku yang mungkin masih kekanakan dan kurang dewasa, cemburuan, egois, banyak mintanya, belum bisa jadi yang kamu mau, aku pengen bisa bantuin kamu ngewujudin mimpi kamu. Mungkin belum bisa kalo mimpi-mimpi besar kayak membiayai kuliah kamu, atau membantu kamu naik haji. Um, aku bercanda. Hoho. Kasih tau aku mimpimu yang melibatkan aku, ayo kita wujudin bareng-bareng.  
Kamu pernah bilang kamu pengen ndaki berempat, kan? Coba kita wujudin. Kamu pernah bilang kamu mau ajak aku liat kembang api dari atas pas malem tahun baru. Ayo. Aku mau.  
By the way, aku masih belum tau banyak tentang kamu. Dan aku pengen tau. Setelah baca ini, tolong kasih tau aku ya. Karena yang aku tau; aku suka banget liat kamu senyum. Rasanya kayak kamu nggak ada beban hidup. Apalagi liat kamu ketawa. Kamu udah kayak millionaire yang punya planet pribadi. Ikut seneng liatnya. Nular.  
Aku pengen kamu senyum tiap hari. Seolah nggak ada masalah besar yang harus kamu hadapi. Ya kalaupun beneran ada, aku pengen kamu bijak, biar masalahnya selesai dengan baik. Aku pengen kamu senyum tiap hari. Nggak peduli orang yang nggak suka sama kamu mau ngomong apa, yang penting kamu senyum aja. Jangan terpengaruh, jangan kemakan omongan mereka. Jangan repot-repot ngasih tau mereka kamu aslinya gimana. Orang yang benci kamu nggak akan percaya, dan orang yang sayang kamu nggak butuh penjelasan kamu.  
Rizki Putra, I don’t love you because of your beauty, your kindness, and your sense of humor. I don’t even love you because you love me back. I love you without any reason necessary.  
Ini surat cinta buat kamu ❤
Selamat tanggal tiga belas yang ke lima.   Semoga bisa sampai yang ke lima puluh.
Rizki Putra, selamat ulang tahun ke tujuh belas ya. I’ve been that age. I’ve done that age. It is fun. Enjoy! Sayang, nggak bisa ngerjain kamu. Pengennya nyeplok telor, terus lempar air tepung, tapi ketahan sama libur sebulan yang memuakkan.  
Rizki Putra, yang ini serius. Kamu udah tujuh belas tahun. Jadi dewasa itu penting. Jadi, dewasalah.
Rizki Putra, jadi anak yang baik buat Bapak Ibuk, ya.
Jadi kakak yang baik buat Kesya sama Al.
Jadi saudara yang baik buat keluarga.
Jadi pendengar yang baik buat temen-temen. Jadi apa yang kamu mau, dan tetep jadi kamu yang positif.  
Rizki Putra, maaf kalo aku masih sering kehabisan topik waktu kita lagi ngobrol.
Aku yang pendiem.
Aku yang sering out of topic.
Aku yang ngeselin.
Aku yang nggak seru.
Aku yang bikin kamu bosen.
Aku yang nggak sabaran.
Aku yang ngerepotin.
Aku yang disini malah curhat...
Aku yang banyak kurangnya.
Aku yang nggak sempurna.  
Rizki Putra. Semoga kamu berubah ke arah yang lebih positif, naik berat badan misalnya. Dan lain-lain.
Semoga apa yang kamu pengen terkabul, semuanya.
Semoga kamu bisa bikin bangga orang tua. Semoga prestasi kamu di sekolah makin banyak.
Semoga rizki orang tua kamu lancar, jadi ngalirnya ke kamu juga.
Semoga makin bijaksana.
Semoga suatu saat nanti kamu jadi imam yang baik buat keluarga, siapapun pendampingnya. Dan ribuan semoga yang lain yang udah aku kirim ke Allah.  
Rizki Putra, makasih.
Makasih untuk selalu ada.
Makasih untuk tetep tinggal.
Makasih untuk tetep sabar.
Makasih untuk tetep maklum dan ikhlas. Makasih udah ngasih warna di masa putih abu-abuku.
Makasih buat bikin detak itu ada lagi, setelah dua tahun beku saking gagal move on nya. Makasih buat nambal hatiku yang sempet retak. Makasih. Dengan adanya kamu, aku berterimakasih.  
Happy Birhday to the person who means the most to me. I hope your birthday wishes come true. I know mine did the day I met you. Thank you for always being right by my side. Rizki Putra, grow old along with me. The best is yet to be.  
Aku sayang kamu.
Udah sebulan. Setelah surat diatas aku tulis pakai hati dan air mata. Dramatis.
Besok tepat enam bulanan eksistensi aku dan kamu. Pengennya? Jalan-jalan sama kamu. Tapi ya sudahlah, mau apa? Kita di tengah ujian tengah semester yang agak terburu-buru.
Setelah ulang tahun ke tujuh belas, aku nyusul juga. Tapi satu tahun lebih dulu menghirup udara dunia. Satu tahun lebih tua. Satu tahun lebih cepat beruban.
Aku masih berfikir kenapa kamu mau sama tante-tante? Ya nggak apa kok. Kalo kamu nggak mau, hatiku yang kerepotan menata diri.
I love you, young man. I do love you.

Postingan Populer