Flight.

Adi Soemarmo, 2003

Kalau tidak salah lima belas tahun yang lalu, tengah malam menuju dini hari, kami anak cucu Mbahkung dan Mbahti Joyo Suwarno berhimpitan tidur beralas koran bekas di atas aspal area parkir bandara.

Bapak dan para om terjaga ditemani beberapa gelas teh panas yang harganya sama sekali tidak wajar. Ibuk dan para tante memangku anak-anaknya, sambil menepuk-nepuk betis yang terasa kebas. Saling jaga satu sama lain; saling jaga sesama manusia, saling jaga benda berharga agar tak raib.

Aku; yang masih sangat belia, menolak tidur di emperan, merengek-meraung minta diantar pulang. Menunggu memang bukan kegiatan favoritku.

Apa sih asyiknya naik haji? Arab, kan panas, bikin item. Paling-paling cuma keren bisa lihat unta. Pikirku kala itu yang makan kurma saja aku kupas kulitnya.

Adi Soemarmo, 2018

Penerbangan pertamaku meski sudah berkali-kali menginjakkan kaki di bandara. Penerbangan pertamaku selama dua puluh tahun eksis di bumi. Akhirnya aku naik pesawat!

Tujuanku adalah Bandara Soekarno-Hatta yang lalu akan kulanjutkan perjalanan ke King Abdul Aziz, Jeddah. Tidak pernah sedikitpun terbayang bahwa aku akan melakukan wisata religi di usia semuda ini. Ala kulli hal alhamdulillah.

Desember tahun lalu ibuku bertanya padaku, yang bagiku malah terdengar seperti orang kesal, pie? Nek diajak umroh wes siap durung? Gagap adalah refleks dari keterkejutanku. Yang kubayangkan pertama kali saat mendengar kata umroh bukan 'ibadah' atau 'kakbah'-nya, tetapi 'luar negeri'. Tak tanggung-tanggung, penerbangan pertamaku membawaku ke luar negeri!

Postingan Populer