Penulis Berkata

Selamat malam.
Rasanya campur aduk. Senang tetap berada di peringkat nomor satu. Disusul gelisah, lalu diakhiri ragu.
Hai para pembaca. (Atau mungkin hanya aku yang membaca.)
Rasa-rasanya aku sedang menjelma menjadi sederet lampion di sepanjang setapak taman kota tiap akhir Desember; digantung.
Tapi aku pun bersyukur, berkat pembawaan diriku yang (kata sebagian kecil orang) juga seperti lampion; membuat sepotong momen statis jadi lebih ceria, seseorang yang aku suka turut menepuk hatiku. Juga menyukaiku.
Tapi aku tetap menyayangkan sejentik ragu yang yang mengungkung peluapan emosiku. Keraguan akan kebenaran yang dia sampaikan secara terang, tanpa basa-basi. Tapi aku tetap menyimpan keraguan. Meski hanya sesingkat kedipan mata, tetaplah ragu namanya.
Kalau rasaku semakin dalam? Bolehkah?
Aku sedang menetralisirnya. Agar rasa kami seimbang; sebagai teman SMA yang saling mengungkapkan rasa suka satu sama lain. Agar aku tidak menempatkan dia dalam kubikel sayang yang pasti akan sangat merepotkan kalau-kalau nanti dia pergi.
Pergi.
Pergi; seperti saat dia menjatuhkan hati pada seorang perempuan yang dianggapnya spesial. Perempuan yang bukan aku. Perempuan yang bisa membuatnya nyaman, jauh lebih nyaman ketimbang aku.
Terima kasih, Tuhan.
Aku bersyukur karena responsnya. Dan setiap rasaku yang berbalas itu sudah lebih dari cukup.
Aku menulis lagi besok lusa. Doakan aku semoga dia tetap ada.

Postingan Populer